Become A Donor

Become A Donor
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Contact Info

684 West College St. Sun City, United States America, 064781.

(+55) 654 - 545 - 1235

info@zegen.com

Latest Posts

Dari Titik Terendah Menuju Panggilan Hidup: Kesaksian Faldy Buyung yang Menggetarkan Jemaat YHS Lembah Pujian Manado

MANADO, YHSNews — Tidak ada yang menduga bahwa Selasa itu akan menjadi salah satu momen paling berkesan dalam sejarah ibadah di Gereja YHS Lembah Pujian Manado. Seorang pemuda bernama Faldy Buyung berjalan maju ke depan mimbar dengan langkah yang tertatih — membawa bukan sekadar cerita, melainkan sebuah kesaksian hidup yang membuat ratusan jemaat yang hadir tak kuasa menahan air mata.

Faldy adalah penyintas gagal ginjal stadium 5. Lima tahun ia telah menjalani perjuangan ini — dengan jadwal cuci darah tiga kali seminggu, atau 156 kali dalam setahun — sebuah angka yang bagi siapapun bukan perkara mudah untuk dibayangkan, apalagi dijalani.


Masa Muda yang Menjadi Pelajaran Pahit

Di hadapan ratusan jemaat dan Pastor Irwan Hasan, Faldy membuka kisah hidupnya dengan jujur dan tanpa filter. Ia bercerita bagaimana di masa mudanya, ambisi dan pengakuan di tempat kerja telah menjadi prioritas yang mengalahkan segalanya — termasuk kesehatannya sendiri.

Kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda dan alkohol secara berlebihan, ditambah minimnya asupan air putih, serta ritme kerja tanpa batas demi karier dan menyenangkan atasan — semua itu perlahan namun pasti menggerogoti tubuhnya dari dalam. Ketika vonis medis akhirnya dijatuhkan, dunia Faldy terasa runtuh seketika.

Ia sempat berada di titik paling gelap dalam hidupnya. Kemarahan, penyesalan, dan keputusasaan bercampur menjadi satu. Ia bahkan menyalahkan Tuhan atas kondisi yang menimpanya.

“Saya tidak lagi berdoa minta kesembuhan. Saya justru minta Tuhan cabut nyawa saya,” ungkapnya dengan suara bergetar di hadapan jemaat yang hening.

Di tengah kegelapan itu, datang pula beban lain yang semakin memperberat hatinya — sang ayah mengalami kecelakaan hingga patah tulang saat hendak menjaganya di ruang ICU. Rasa bersalah yang mendalam semakin menghimpit jiwa Faldy hingga ke titik yang sangat kritis.


Cahaya di Ambang Maut

Namun di titik paling kritis itulah — saat Faldy berada dalam kondisi sakratul maut — sesuatu yang luar biasa terjadi. Ia mengaku menyaksikan cahaya yang sangat terang, dan sebuah suara yang bergema jauh di dalam batinnya, menyatakan bahwa waktunya di dunia belum selesai — bahwa ia dipanggil untuk menjadi berkat.

Bukan Faldy yang mencari Tuhan. Tuhan yang datang menemuinya.

Mendengar kesaksian ini, Pastor Irwan Hasan merespons dengan pernyataan yang langsung menyentuh hati seluruh jemaat yang hadir:

“Bapak Ibu, lihat dan dengarkan. Faldy menyalahkan Tuhan dan tidak berdoa minta kesembuhan, tetapi Tuhan datang kepadanya memberikan pesan untuk menjadi berkat. Itu adalah inisiatif Tuhan — bukti nyata betapa Ia sangat mengasihi Faldy.”

Kalimat itu menggantung di udara. Dan di sana, di dalam ruang ibadah yang mendadak sunyi, banyak jemaat yang mulai mengusap sudut matanya.


Bangkit dan Memilih Menjadi Berkat

Pengalaman di ambang maut itu mengubah arah hidup Faldy sepenuhnya. Ia kini memilih jalan sebagai konten kreator edukasi kesehatan — berbagi pengalaman dan pengetahuannya agar orang lain tidak perlu melewati jalan yang sama dengan yang ia lalui.

Namun perjalanan itu pun tidak mudah. Niat tulus Faldy untuk berbagi kebaikan kerap dibalas dengan perundungan di media sosial yang membuatnya sempat terpuruk dalam depresi. Di saat-saat paling berat itulah, kata-kata sang ibu menjadi jangkar yang menyelamatkannya — bahwa ia tidak bertanggung jawab atas perkataan buruk orang lain, dan bahwa panggilannya untuk menjadi berkat jauh lebih besar dari komentar-komentar yang menyakitkan itu.

Dengan air mata yang ia tahan sekuat tenaga, Faldy tetap berdiri. Tetap bersuara. Tetap melangkah.


Gereja yang Hadir Secara Nyata

Kesaksian Faldy bukan hanya menggerakkan hati jemaat secara emosional — ia juga menggerakkan tindakan nyata. Pastor Irwan Hasan secara terbuka menegaskan bahwa Gereja YHS Lembah Pujian Manado berkomitmen penuh untuk mendampingi Faldy dalam perjalanan perawatannya.

“Faldy tidak akan berjalan sendirian,” — itulah pesan yang disampaikan dengan tegas dari atas mimbar.

Lebih dari sekadar kata-kata, bantuan finansial untuk kebutuhan pengobatan Faldy pun segera mengalir — diberikan langsung melalui PT. Favor Indah Jaya, perusahaan yang dipimpin oleh Pastor Irwan Hasan sendiri. Sebuah bukti bahwa kasih Tuhan Yesus tidak berhenti pada khotbah dan doa semata, tetapi mewujud dalam kepedulian yang konkret dan terukur.


Momen Spesial di Hari yang Spesial

Di penghujung kesaksiannya, Faldy menyempatkan diri untuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Pastor Irwan Hasan yang pada hari itu merayakan ulang tahun ke-47 sekaligus 13 tahun pelayanannya di Gereja YHS Lembah Pujian Manado.

Sebuah momen yang terasa begitu lengkap — di hari yang merayakan perjalanan seorang gembala, hadir sebuah kesaksian yang menjadi bukti nyata bahwa pelayanan selama 13 tahun itu telah menghasilkan buah yang nyata di dalam kehidupan jemaat.


Pesan yang Melampaui Dinding Gereja

Kesaksian Faldy Buyung bukan hanya milik ratusan jemaat yang hadir secara langsung di dalam ruang ibadah itu. Ia adalah pesan yang perlu didengar lebih luas — bahwa tidak ada kondisi yang terlalu gelap untuk dijangkau oleh Tuhan Yesus, bahwa hidup yang tampaknya hancur pun masih bisa menjadi kesaksian yang mengubah hidup orang lain, dan bahwa komunitas iman yang sejati tidak pernah membiarkan anggotanya berjuang sendirian.

Teruslah berjuang, Faldy. Manado — dan dunia — perlu mendengar kisahmu. 🕊️💛


Diliput oleh Tim Redaksi YHS Lembah Pujian Manado 📍 Gereja YHS Lembah Pujian Manado | Manado


#YHSLembahPujianManado #KesaksianHidup #FaldyBuyung #GagalGinjal #TransformasiHidup #PsIrwanHasan #GerejaBerdampak #TuhanYesusMengasihi #HidupdanBerkat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked